Kabid PSU Dinas Perkim Pekanbaru Martin Manouluk bersama Founder Terra Group Yuhendra Prayoga saat Soft launching Kandang Terra (Terpadu Raya)
Pekanbaru, newslintasmerah.com-
Gagasan membangun ketahanan gizi sekaligus ketahanan ekonomi dari lingkungan rumah tangga mulai diperkenalkan melalui konsep Kandang Terra. Inovasi tersebut digagas oleh Founder Terra Group, Yuhendra Prayoga, bersama sejumlah akademisi sebagai upaya mendorong masyarakat memproduksi sumber pangan secara mandiri dalam skala sederhana.
Konsep ini diperkenalkan dalam kegiatan Soft Launching Project Terra yang berlangsung di Hotel Khas Pekanbaru, Rabu (11/3/2026).
Yuhendra menjelaskan, Kandang Terra merupakan gagasan yang lahir dari semangat anak-anak muda di Provinsi Riau, khususnya Pekanbaru, untuk membangun konsep ketahanan gizi berbasis rumah tangga. Sistem tersebut menggabungkan beberapa kegiatan produksi pangan dalam satu model terpadu yang ringkas dan mudah diterapkan.
“Konsep ini pada dasarnya memindahkan pola peternakan dan pertanian skala besar menjadi model yang lebih sederhana. Dalam satu kandang terpadu terdapat kolam ikan, kandang ayam petelur, serta kebun sayuran hidroponik,” ujarnya.
Kandang Terra memiliki dua tujuan utama. Pertama, meningkatkan kualitas gizi keluarga, terutama bagi anak-anak. Kedua, membuka peluang tambahan pendapatan bagi rumah tangga melalui hasil produksi pangan yang dihasilkan dari sistem tersebut. Konsep ini tidak hanya berbicara mengenai ketahanan gizi, tetapi juga ketahanan ekonomi keluarga yang saling berkaitan.
“Ketahanan gizi dan ketahanan ekonomi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Apalagi, kebutuhan bahan pangan meningkat, termasuk untuk dapur umum penyedia makanan bergizi,” ujar Yuhendra.
Dalam sistem Kandang Terra terdapat tiga komponen utama, yakni ayam petelur sebagai penghasil telur, kolam ikan sebagai sumber protein hewani, serta tanaman sayuran hidroponik yang dapat dipanen secara berkala. Ketiga unsur tersebut dirancang menjadi satu ekosistem pangan skala rumah tangga. Diharapkan, Kandang Terra dapat menjadi proyek percontohan dalam pengembangan ketahanan pangan berbasis keluarga di Kota Pekanbaru.
“Melalui konsep sederhana ini, masyarakat diharapkan dapat memulai produksi pangan dari lingkungan rumah sendiri,” harap Yuhendra.
Kandang Terra bukan sekadar gagasan pribadi, melainkan hasil kolaborasi berbagai pihak. Dalam pengembangannya, Terra Group menggandeng sejumlah akademisi, termasuk dosen dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau, khususnya dari Fakultas Peternakan dan Pertanian.
"Konsep Kandang Terra sendiri merupakan bagian dari proyek yang lebih besar, yaitu Project Terra. Nama Terramerupakan akronim dari Terpadu Raya, yang menggambarkan sistem integrasi produksi pangan dari hulu hingga hilir," jelas Yuhendra.
Melalui proyek tersebut, berbagai produk protein hewani akan dikembangkan dengan standar kualitas premium dan sehat. Produk yang dihasilkan tidak hanya terbatas pada ayam, tetapi juga mencakup ikan, kambing, hingga sapi. Selain itu, konsep ini juga menyesuaikan dengan perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin peduli terhadap kesehatan.
Semakin banyak komunitas yang menerapkan pola hidup sehat, seperti komunitas sepeda, sepak bola, hingga futsal. Kelompok masyarakat dengan gaya hidup sehat tersebut dinilai memiliki potensi sebagai pasar khusus bagi produk pangan sehat yang dihasilkan dari Project Terra.
“Karena itu, kami tidak hanya menyasar pasar umum. Tetapi, kami juga menyasar pasar yang lebih spesifik, terutama masyarakat yang menerapkan gaya hidup sehat,” tutupnya.
Sementara itu, Pemko Pekanbaru menyambut positif peluncuran Project Terra. Program ini dinilai mampu memperkuat kemandirian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan sekaligus meningkatkan kualitas gizi keluarga.
“Melalui peluncuran Kandang Terra ini, masyarakat diperkenalkan dengan konsep mini ketahanan pangan berbasis rumah tangga yang mengintegrasikan peternakan ayam petelur, budi daya ikan, serta penanaman sayuran hidroponik dalam satu sistem yang terpadu dan saling mendukung,” kata Kepala Bidang (Kabid) Prasarana, Sarana, dan Utilitas Umum (PSU) Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Pekanbaru Martin Manouluk.
Inovasi tersebut merupakan langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis rumah tangga. Konsep tersebut dapat mendorong masyarakat agar lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, sekaligus membantu pemenuhan gizi keluarga, khususnya bagi anak-anak sebagai generasi penerus.
Selain itu, sistem ini juga berpotensi membuka peluang ekonomi baru bagi masyaraka. Para mitra yang terlibat dalam program ini nantinya dapat berperan sebagai pemasok bahan pangan, seperti telur, ikan, dan sayuran segar, untuk mendukung kebutuhan dapur umum penyedia makan bergizi gratis (MBG).
Pemko Pekanbaru berharap Project Terra dapat berkembang lebih luas dan menjadi bagian dari upaya bersama dalam memperkuat ketahanan pangan. Proyek inj sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Inovasi ini diharapkan menjadi contoh pengembangan sistem pangan terpadu yang berkelanjutan di tengah masyarakat,” pungkasnya.
Konsep ini diperkenalkan dalam kegiatan Soft Launching Project Terra yang berlangsung di Hotel Khas Pekanbaru, Rabu (11/3/2026).
Yuhendra menjelaskan, Kandang Terra merupakan gagasan yang lahir dari semangat anak-anak muda di Provinsi Riau, khususnya Pekanbaru, untuk membangun konsep ketahanan gizi berbasis rumah tangga. Sistem tersebut menggabungkan beberapa kegiatan produksi pangan dalam satu model terpadu yang ringkas dan mudah diterapkan.
“Konsep ini pada dasarnya memindahkan pola peternakan dan pertanian skala besar menjadi model yang lebih sederhana. Dalam satu kandang terpadu terdapat kolam ikan, kandang ayam petelur, serta kebun sayuran hidroponik,” ujarnya.
Kandang Terra memiliki dua tujuan utama. Pertama, meningkatkan kualitas gizi keluarga, terutama bagi anak-anak. Kedua, membuka peluang tambahan pendapatan bagi rumah tangga melalui hasil produksi pangan yang dihasilkan dari sistem tersebut. Konsep ini tidak hanya berbicara mengenai ketahanan gizi, tetapi juga ketahanan ekonomi keluarga yang saling berkaitan.
“Ketahanan gizi dan ketahanan ekonomi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Apalagi, kebutuhan bahan pangan meningkat, termasuk untuk dapur umum penyedia makanan bergizi,” ujar Yuhendra.
Dalam sistem Kandang Terra terdapat tiga komponen utama, yakni ayam petelur sebagai penghasil telur, kolam ikan sebagai sumber protein hewani, serta tanaman sayuran hidroponik yang dapat dipanen secara berkala. Ketiga unsur tersebut dirancang menjadi satu ekosistem pangan skala rumah tangga. Diharapkan, Kandang Terra dapat menjadi proyek percontohan dalam pengembangan ketahanan pangan berbasis keluarga di Kota Pekanbaru.
“Melalui konsep sederhana ini, masyarakat diharapkan dapat memulai produksi pangan dari lingkungan rumah sendiri,” harap Yuhendra.
Kandang Terra bukan sekadar gagasan pribadi, melainkan hasil kolaborasi berbagai pihak. Dalam pengembangannya, Terra Group menggandeng sejumlah akademisi, termasuk dosen dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau, khususnya dari Fakultas Peternakan dan Pertanian.
"Konsep Kandang Terra sendiri merupakan bagian dari proyek yang lebih besar, yaitu Project Terra. Nama Terramerupakan akronim dari Terpadu Raya, yang menggambarkan sistem integrasi produksi pangan dari hulu hingga hilir," jelas Yuhendra.
Melalui proyek tersebut, berbagai produk protein hewani akan dikembangkan dengan standar kualitas premium dan sehat. Produk yang dihasilkan tidak hanya terbatas pada ayam, tetapi juga mencakup ikan, kambing, hingga sapi. Selain itu, konsep ini juga menyesuaikan dengan perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin peduli terhadap kesehatan.
Semakin banyak komunitas yang menerapkan pola hidup sehat, seperti komunitas sepeda, sepak bola, hingga futsal. Kelompok masyarakat dengan gaya hidup sehat tersebut dinilai memiliki potensi sebagai pasar khusus bagi produk pangan sehat yang dihasilkan dari Project Terra.
“Karena itu, kami tidak hanya menyasar pasar umum. Tetapi, kami juga menyasar pasar yang lebih spesifik, terutama masyarakat yang menerapkan gaya hidup sehat,” tutupnya.
Sementara itu, Pemko Pekanbaru menyambut positif peluncuran Project Terra. Program ini dinilai mampu memperkuat kemandirian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan sekaligus meningkatkan kualitas gizi keluarga.
“Melalui peluncuran Kandang Terra ini, masyarakat diperkenalkan dengan konsep mini ketahanan pangan berbasis rumah tangga yang mengintegrasikan peternakan ayam petelur, budi daya ikan, serta penanaman sayuran hidroponik dalam satu sistem yang terpadu dan saling mendukung,” kata Kepala Bidang (Kabid) Prasarana, Sarana, dan Utilitas Umum (PSU) Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Pekanbaru Martin Manouluk.
Inovasi tersebut merupakan langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis rumah tangga. Konsep tersebut dapat mendorong masyarakat agar lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, sekaligus membantu pemenuhan gizi keluarga, khususnya bagi anak-anak sebagai generasi penerus.
Selain itu, sistem ini juga berpotensi membuka peluang ekonomi baru bagi masyaraka. Para mitra yang terlibat dalam program ini nantinya dapat berperan sebagai pemasok bahan pangan, seperti telur, ikan, dan sayuran segar, untuk mendukung kebutuhan dapur umum penyedia makan bergizi gratis (MBG).
Pemko Pekanbaru berharap Project Terra dapat berkembang lebih luas dan menjadi bagian dari upaya bersama dalam memperkuat ketahanan pangan. Proyek inj sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Inovasi ini diharapkan menjadi contoh pengembangan sistem pangan terpadu yang berkelanjutan di tengah masyarakat,” pungkasnya.
Posting Komentar